Blog Entrypesan dari sayaMar 17, '08 7:38 AM
for everyone

Ingatkah Anda, Kapan Tanggal Kematianmu?

Jan 12, '08 8:52 AM
for everyone

Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Bye-bye 2007, Hello 2008. Ahlan wa sahlan 1429. Dalam dua minggu ini, ucapan seperti itu, sering muncul di inbox e-mailku. Kalau tidak datang dari e-mail pribadi, pasti dari milis dan MP-er. Meskipun cara mengungkapkannya berbeda, tapi intinya tetap sama, yaitu ingin mengucapkan selamat tahun baru.

Bersamaan datangnya tahun baru dari dua sistim penanggalan itu, tak ada hal istimewa yang harus aku abadikan dalam tulisanku. Aku tidak seperti orang lain membuat resolusi, renungan, muhasabah, dan sejenisnya. Tapi hatiku mencatat, ada dua kejadian bersamaan dengan pergantian tahun ini, pertama kematian anak temanku yang baru berumur enam minggu; dan kedua kematian temanku sesama mahasiswa Indonesia Al-Azhar Mesir.

Kematian, bukan sesuatu yang baru aku dengar. Namun entah mengapa, aku tiba-tiba ingat tanggal kematianku. Ya, aku ingat tanggal kematianku! Aku sadar, aku tidak pernah akan tahu tanggal kematian, kecuali kalau Allah swt memberitahuku. Namun, selama ini, aku memang terfokus pada tanggal kematian, bukan tanggal kelahiran.

Seumur hidup, aku tidak pernah merayakan tanggal kelahiranku. Karena memang tidak perlu ada lilin, kue, lagu "Happy Birthday", tepukan tangan, ciuman, dan lain sebagainya, untuk mengingatnya. Aku tahu tanggal kelahiranku, karena memang aku sering diminta untuk menuliskannya setiapkali aku akan menerima lapor sekolah, ijazah, laporan pendidikan, tadid iqomah (memperpanjang visa), curriculum vitae, dan lain sebagainya.

Dari angka tahun masehi-hijriyah dan tanggal kelahiran itu --15 Agustus 1977, aku sadar bahwa usiaku sudah memasuki waktu dhuha, bahkan menjelang dhuhur, ini kalau kita hitung 63 tahun sebagai waktu senja. Dalam Al-Quran, Allah bersumpah dengan waktu dhuha. Ini menunjuakkan betapa agungnya waktu dhuha. Bahkan dalam ayat lain, Allah menjelaskan bahwa umur 30 tahun termasuk umur al-quwwah. Sebuah masa bagi seseorang untuk memperbanyak amal, produktifitas, karya, dan apapun namanya yang bermanfa'at.

Sebab, amal, produktifitas, karya, dan sejenisnya itu, yang menentukan apakah kita panjang umur atau tidak. Panjang umur bukan seberapa banyak usia yang telah kita lalui, tapi lebih seberapa banyak amal kebaikan, produk terbaik, karya mencerahkan, dan hal bermanfa'at yang telah kita lakukan. Inilah makna permintaan nabi Ibrahim: "Wahai Allah, jadikan aku buah tutur yang baik bagi generasi yang akan datang."

Jika standar panjang umur itu aku letakkan kepada diriku, maka aku masih balita, karena belum memiliki karya terbaik untuk aku wariskan dan aku tinggalkan setelah mati. Meskipun banyak orang mengenalku sebagai seorang penulis, tapi aku masih merasa "belum" menjadi penulis sejati yang aku idamkan.

Seperti apa penulis sejati itu? Bagiku sangat sederhana, penulis sejati adalah penulis yang ingat kematian. Apa hubungan antara menulis dengan kematian? Untuk menjawabnya, mari kita ingat kembali hadis nabi yang sering kita dengar di mana-mana, terutama saat orang minta sumbangan di masjid, di jalan, dan di bus, yaitu: "Apabila manusia meninggal, maka akan terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara (1) shodaqoh jariyah; (2) ilmu bermanfa'at; dan (3) anak yang sholeh-sholehah yang mendo'akan kedua orang tuanya".

Untuk memenuhi tiga hal itu, selama ini aku menulis. Pertama, aku menulis karena shodaqoh jariyah. Untuk bershodaqoh --pada zaman ini-- kita butuh uang. Dan uang tidak pernah datang, tanpa sebuah pekerjaan. Aku pun bercita-cita menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah pekerjaan. Namun aku belum sungguh-sungguh menjalaninya, aku masih memperlakukannya sebagai aktivitas "sampingan". Meskipun demikian, al-hamdulillah, royalti dan hasil tulisanku, aku bisa bershodaqoh kepada isteri dan anak-anak. Selain memang Islam mengajarkan sedekah untuk keluarga dekat dulu, juga memang yang aku hasilkan baru bisa untuk memberikan nafkah saja, belum bisa untuk orang lain, apalagi shodaqoh jariyah, alias sedekah yang terus mengalir tanpa henti seperti air.

Kedua, aku menulis karena al-ilmu yuntafa'u bihi. Ada perbedaan antara kata "nafa'a" dengan "intafa'a". Dari segi maf'ul (objek) memang yang pertama tidak butuh objek, sedangkan kedua membutuhkan. Namun aku tertarik segi makna, bahwa kata pertama artinya "memberikan faidah", sedangkan kedua "selain memberikan faidah, juga sesuai dengan fungsinya". Contohnya begini, betapa banyak profesor ekonomi yang bisa menjelaskan tentang prinsip-prinsip ekonomi. Itu artinya ilmunya telah berfaidah. Sebaliknya, tidak sedikitnya ahli ekonomi, namun ia seorang koruptor. itu maknanya, ilmu bermanfa'at ermanfa'at, tapi tidak sesuai dengan fungsi ilmunya, yaitu mensejahtrakan manusia, bukan untuk dirinya sendiri. Sama hal dengan orang mengajarkan ilmu agama (Islam), kalau hanya sebatas ceramah di mimbar, itu baru sebatas nafa'a, tapi kalau ilmu yang ia sampaikan sudah mendarah daging dalam dirinya, itu baru disebut dengan "intafa'a". Dan nabi mengatakan amalan yang tidak terputus adalah al-ilmu yunta'u bih, alias berfaidah sekaligus sesuai dengan fungsinya.

Nah, semangat untuk "memberikan faidah" dan "memfungsikan ilmu" itulah yang menggerakan aku menulis. Selama ini, satu sisi adik, kakak, dan keluargaku butuh bimbinganku, namun di sisi lain, aku belum bisa pulang ke Indonesia. Sebagai solusinya, aku menuliskan apa yang aku dapatkan selama belajar di Mesir untuk dibaca oleh keluargaku. Dan ternyata, apa yang aku tulis, juga dibutuhkan oleh orang lain. Dan al-hamdulillah, buku tidak hanya dibaca keluargaku, tapi juga masyarakat Indonesia.

Ketika, aku menulis karena waladin sholihin yad'u lahu. Aku sering berdiskusi dengan isteriku, diantaranya, bagaimana caranya agar kami bisa memiliki anak sholeh-sholehah? Dari sana kami bisa merumuskan konsep "Pendidikan Berbasih Kasih Sayang" (Tujuh Prinsip Anak Menjadi Pahlawan). Dalam konsep ini, bukan sekedar bagaimana cara mendidik anak kami saat ini, tapi melompatkan jauh, mau kuliah di mana dan kapan anak kami nikah, dan seterusnya. Namun, semua impian itu akan tidak artinya, jika salah satu diantara kami meninggal, terutama aku. Dari sinilah, muncul ide, untuk menuliskan semua ide-ide atau pelajaran yang bisa dibaca oleh anak-anak kami agar mereka menjadi anak sholeh. Ternyata, apa yang kami inginkan (tentang anak sholeh-sholehah) juga diinginkan oleh orang tua lainnya. Maka, alhamdulillah, sebelum buku dibaca oleh anak-anak kami (soalnya yang tertua berumur 1 tahun 9 bulan, yang kedua berumur 7 bulan), anak-anak orang lain sudah membacanya. Dan ternyata ada yang mendapatkan hidayah, gara-gara membaca bukuku itu.

Itu alasanku, mengapa aku menulis. Aku menulis, karena ingat mati. Aku menulis bekal untuk mati. Dengan paradigma seperti itu, cukup mempengaruhi tulisanku. Aku hanya menuliskan sesuatu yang bisa menyelamatkanku setelah mati nanti. Aku tidak ingin menulis karena bersifat duniawi dan menyesatkan banyak orang, sehingga para pembaca tulisanku menuntut kepada Allah agar menyiksaku gara-gara tulisanku. Na'udzubillah min dzalik.

Selain itu, menulis karena ingat mati, telah memotivasiku untuk terus menulis. Sebab aku tidak tahu kapan tanggal kematianku. Maka aku terus menulis, karena khawatir tanggal ini adalah tanggal kematianku.
Nah, jika selama ini Anda sering ingat tanggal kelahiranmu, maka ingatkah Anda kapan tanggal kematianmu? Wallahu a'lam.

 




nenengbatman wrote on Mar 17
Assalamu'alaykum yaa Akhi! Jadi inget kata dokter, aku ga akan hidup lama...coz jantungku masih belum bener klepnya, padahal aku juga mau punya anak-anak sholeh dan sholehah...berkontribusi terhadap al-Islam lebih banyak lagi....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.