Di kampus, ada sebuah tempat yang menjadi favorit banyak orang. Saya pun kemudian ikut-ikutan menjadi bagian dari banyak orang tersebut. Sepintas tempatnya biasa-biasa saja. Tak ada makanan di sana, karena memang bukan kafe. Tak ada pula bangku kursi, karena memang bukanlah tempat yang diperuntukkan untuk duduk-duduk. Tempatnya ada di atas, ada di lantai empat. Bukan tempat istimewa sebenarnya, dan hanya kebetulan saja mulanya saya (atau teman-teman) sering kali menghabiskan waktu di sana. Hanya sebuah tandon air tertutup yang terbuat dari logam. Bentuknya balok. Terletak di samping musholla putra, di sebelah kran wudhu. Karena posisinya itulah tempat ini sering kali jadi tempat melepas lelah sambil menunggu antrian wudhu. Tak jarang pula sambil tiduran.
Dari situlah kemudian saya merasakan kenyamanan berlama-lama di sana. Enak sekali sore-sore tiduran di sana. Menikmati semilir angin. Merasakan sensasi dingin air tandon di punggung. Dan menerawang jauh. Memang, tempat ini terbuka, tak ada atapnya. Jadi bebas saja memandang yang kita inginkan. Ada jajaran motor yang berbaris di parkiran, ada ladang sawi yang memang banyak sekali di sekitar kampus. Juga perumahan dosen di kejauhan. Semuanya bebas untuk dipandang. Sejuk sekali. Hilanglah segala resah dan lelah.
Dan yang paling mengagumkan adalah saat malam menjelang. Saya bisa berlama-lama di sana. Menikmati kerlap-kerlip di kejauhan. Ada yang begitu terang dan teratur : pertanda di situ ada perumahan elit. Ada yang suram dan tak teratur formasinya: itulah perkampungan kelas menengah ke bawah yang memang mengitari kampus. Lalu bila memandang ke timur, akan terlihat kubah yang bercahaya. Kubah masjid Baitun Nur Kejawan. Dan bila mulai merangsek memandang ke atas, subhanallah, akan ada kerlap-kerlip bintang. Juga bulan. Entah mengapa saya begitu sukanya melihat bulan bintang ini. Tentram saja melihatnya. Dulu, waktu saya masih SMA, pas ketika jenuh belajar, saya akan keluar sebentar ke teras rumah. Memandang langit. Kadang sampai sepuluh menitan. Ajaibnya, itu bisa menyegarkan kembali pikiran.
Uigh, ngomong masalah ini, saya jadi teringat novelnya bang Tere Liye yang ”Rembulan Tenggelam Di Wajahmu” (*betul tidak ya judulnya, karena dulu cuma pinjam*). Ray, tokoh utama cerita tersebut gemar sekali memanjat tower tandon air di samping kamar kosnya untuk berlama-lama memandang bulan. Jadi, waktu membaca cerita itu seperti membaca diri sendiri saja. Gue banget. Sepertinya sih penulisnya memang punya kegemaran memandang bulan juga, karena setelah membaca novelnya yang lain, Moga Bunda Disayang Allah, ada suatu cerita salah satu tokoh cerita, ayahnya Melati, naik ke atap pabrik untuk memandang bulan. Melepas beban.
Kembali ke cerita saya yang awal tadi.
Sebenarnya dulu saya juga punya tempat yang cukup asyik untuk berlama-lama memandang jauh. Kalau malam juga bisa digunakan untuk memandang bulan. Tapi sayangnya itu di kontrakan lama. Tempatnya ada di lantai dua, tempat anak sekontrakan biasa menjemur cucian. Yang enak dari tempat ini karena saya bisa hehijauan sepuasnya. Belakang kontrakan lama saya ini memang hanyalah padang rumput luas di antara tambak ikan. Luas sekali. Kalau mengingat itu saya jadi menyesalkan kontrakan saya yang sekarang. Tempat semacam itu tak ada lagi. Tempat jemuran memang masih di lantai dua, tapi bedanya tempatnya sempit dan tidak representatif untuk dijadikan tempat untuk melaksanakan hobi saya itu. Yang bisa dilihat dari sana paling hanya genteng tetangga, selain karena tak ada tempat yang nyaman untuk bisa saya duduki lama-lama.
Kira-kira hobi saya aneh tidak ya? Entahlah. Tapi yang pasti hobi saya ini memberi saya inspirasi untuk membuat satu tempat khusus (mungkin di atap) untuk tempat memandang bulan di rumah saya kelak.