Jika ada orang yang mengatakan “lakukanlah perjalanan jika ingin memperoleh pengalaman”, rasanya itu benar, minimal buat saya. Pernyataan itu saya buktiksn sendiri ketika saya dan beberapa teman kuliah seangkatan mengadakan kegiatan di sebuah kota yang jarang saya kunjungi. Saya menginap di rumah salah satu teman laki-laki saya yang kebetulan berasal dari kota itu, sedangkan teman-teman saya yang perempuan menginap di rumah seorang teman yang yang juga berasal dari kota itu. Tapi bukan itu sebenarnya inti ceritanya. Ceritanya, atau sepetik pengalaman saya dimulai ketika kami (saya, dua orang teman, dan seorang yang member saya tumpangan menginap) pergi ke tempat teman-teman perempuan saya menginap yang merupakan rumah salah seorang teman saya itu. Seingat saya hari itu sudah sore dan kami hanya mampir sebentar setelah hampir setengah hari sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk kegiatan esok harinya. Untuk itulah saat itu kami hanya duduk di teras dan dan tidak masuk ke dalam. Sang tuan rumah (teman perempuan saya itu) seperti layaknya tuan-tuan rumah yang lain menghidangkan suguhan bagi tamu-tamunya. Sampai di sini berhenti.
Ceritanya dimulai ketika teman saya itu akan menghidangkan camilan bagi kami teman-temannya. Entah karena gugup atau karena terlalu bersemangat menyambut tamu, toples yang berisi camilan itu lepas dari tangannya, dan ada sebagian isinya tumpah ke lantai. Saya masih ingat isinya sejenis kerupuk dan rengginang. Seperti biasa, seperti orang-orang pada umumnya, teman saya tersebut segera memungut kembali cemilan yang tumpah ke lantai tersebut. Namun yang sedikit tidak biasa, ia tidak mengembalikannya ke toples, malah melangkah ke luar rumah dan membuang cemilan tersebut ke tempat sampah.
Beberapa orang mungkin menganggap itu wajar, tapi bagi saya tidak.
Saya melongo, terenyuh, tak tahu harus berbuat atau ngomong apa. Beginikah poteret kehidupan teman saya. Saya jadi merinding. Di rumah, jangankan memungut dan memakan kembali makanan yang jatuh ke lantai keramik licin seperti di rumah teman saya itu, saya saja pernah mencuci dan menggoreng kembali tempe yang jatuh ke lantai tanah ketika akan dipindah dari penggorengan ke piring. Terus memakannya. Jadi lauk makan yang tetap nikmat. Sehat! Terbukti saya bisa kuliah dengan teman-teman saya itu.
Setelah peristiwa itu saya jadi merenung sambil berharap semoga kejadian itu bukan murni dari diri teman saya itu, bukan atas dasar kebiasaannya. Tapi atas dasar tekanan sedang dilihat temannya, atas dasar perasaan untuk menampilkan tindakan sehigienis mungkin di hadapan teman-temannya. Saya jadi miris membayangkan jika itu benar-benar kebiasaannya, mengingat masih banyak orang yang mungkin belum pernah memakan cemilan itu. Orang-orang yang untuk mencari sesuap nasi saja sulit. Orang-orang yang mengharap uluran tangan kita. Sedang kita?
Ah!
25 maret 2006