Karena Itu Kau Jahit dengan Cinta
Saya sempat terkejut, ketika berjalan menyusuri sebuah lorong di kampus, saya menemukan sembulan-sembulan kecil benang di lipatan bawah celana dengan warna yang berbeda dengan warna celana itu. Aneh. Agak lama juga saya berpikir. Memang dulu saya pernah menjahit lipatan celana bagian kiri saya yang mengelupas dengan warna berbeda, tapi bukan warna ini. Lagipula saya telah menggantinya dengan warna yang pas dengan warna celana saya, dengan teknik menjahit manual yangh cukup lumayan bila dibandingkan dengan jahitan celana bagian kanan saya sekarang ini. Sampai……
Upss! secepat kilat saya buang pikiran itu dari dari kepala. Bukankah celana ini yang kemarin saya bawa puolang ke rumah, dicuci di rumah, dan berada di rumah selama kurang lebih dua hari. Jadi, ah tak salah lagi ada orang di rumah yang menjahitnya. Ada orang di rumah yang tak tega melihat lipatan celana saya itu mengelupas. Keempat kakak saya tak mungkin melakukannya, mereka semua laki-laki dan tak mungkin mengurusi hal-hal demikian. Hanya tiga orang perempuan yang mungkin berada di rumah. Kakak ipar saya tak mungkin melakukannya, sedangkan nenek….ia terlalu tua untuk melakukan pekerjaan serumit itu. Hanya tinggal satu orang yang mungkin melakukannya: ibu.
Hati saya bergetar, bagaimana pikiran jahat itu melintas di benak saya, bagaiman mungkin saya, secara tak langsung mengolok hasil pekerjaan ibu. Bukankah yang paling penting itu beliau lakukan dengan naluri keibuannya, dengan cinta, dengan ketulusan, dengan tanpa pengharapan lain kecuali bisa melakukan yang terbaik buat anaknya. Sesuatu yang tak akan bisa dilakukan oleh penjahit profesianal sekalipun.
Saya tertekuk, lekuk. Hati ini lumer selumer-lumernya. Sekonyong-konyong pikiran ini dipenuhi senyum ibu, senyum yang merekah yang selalu ia persembahkan di saat kepulanggan saya , senyum yang selalu saya rindukan di saat-saat berat menghadapi gejolak hidup di perkuliahan. Senyum yang mengenergi.
Ah ibu, andai kau tahu betapa aku selalu merindu senyummu.
Sby,
090306