 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Tere Liye |
Buku ini sudah lumayan lama dan sudah banyak yang menulis resensinya, silahkan di search saja di mp pasti akan banyak sekali yang meresensinya. Apalagi kalau di googling, pasti lebih banyak.
Saya membeli novel ini tanpa sengaja. Ceritanya sekitar setahunan yang lalu. Saat itu sebelum pulang ke kampung halaman, saya sempatkan dulu untuk mampir ke Toga Mas DTC. Setelah Cuma keliling saja melihat-lihat buku yang berjajar di rak, mata saya kemudian tertumbuk pada sebuah buku bergambar anak kecil memakai mukenah. Judulnya kelihatan menarik. Dan ketika saya lihat-lihat yang memberi komentar juga bukanlah orang sembarangan.
Mungkin saya sudah jodoh kali dengan novel ini . Saya langsung beli saja. Tak perlu menunggu lama. Inilah novel pertama yang saya beli, yang selanjutnya membuat saya ketagian membeli buku-buku sejenis.
Saya mulai membaca novel ini ketika sedang berada di bus saat perjalanan pulang. Saaat itu saya senyum-senyum sendiri membaca tingkah Delisa saat dibangunkan kakaknya untuk sholat subuh. Sesampai di rumah, saya cuma sebentar saja melanjutkan membaca karena memang sudah sangat capek dan mengantuk kala itu. Saya baru melanjutkan membaca habis sholat subuh. Suasana mendukung sekali kala itu. Masih sepi. Saya membacanya di ruang tamu sendirian. Saat itulah saya tak bias membendung air mata saya yang deras mengalir. Uigh bagaimana bisa seorang Delisha yang masih enam tahun bisa mengucapkan kalimat seindah itu.”Delisa…D-e-l-i-s-a cinta Ummi… Delisa karena Allah”, kalimat itulah yang membuat saya tergugu lama, mata basah, dan hidung meleleh. Saya bahkan harus menghentikan sejenak membaca novel itu karena emosi saya begitu meluap-luap. Seperti diaduk-aduk.Entah apa jadinya kalau saya paksakan. Mungkin saya bisa teriak histeris.
Membaca novel ini tak pernah sekalipun saya merasa bosan. Setiap halamannya mengajak kita untuk selalu merenung, trenyuh, atau bahkan berintrospeksi diri (selain mengajak kita sesenggukan tentunya). Salah satu yang beda dari novel ini adalah catatan-catatan kaki dari penulisnya yang cukup mengena.
Hanya satu kekurangan novel ini kenapa kok hanya 248 halaman (*he..he..he..*), seperti tak rela saja kehilangan wajah ceria Delisa ketika memasuki lembar-lembar terakhir. Ada yang terasa menghilang.
Pokoknya bagus sekali deh. Saya rekomendasikan kepada semuanya untuk membeli, tak hanya meminjam. Karena selain isinya yang memang bagus tadi, novel ini tak membosankan juga untuk kita baca berulang-ulang.

 | setuju!! ini novel pertama dari sekian banyak novel yg pernah sy bc, yg bikin nangis bkn hnya sekali, hihihi, jd malu deh.. |
| |
|